www.indonesia-capetown.org.za
WHAT'S NEW

Friday, 2 December 2011

UPAYA INDONESIA MENANGGULANGI  HIV/AIDS DIPAPARKAN DALAM KONPERENSI INTERNASIONAL DI AFRIKA SELATAN

Dr. Sumarjati Arjoso, anggota komisi XI DPR-RI dari fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), saat ini tengah berada di Port Elizabeth, Afrika Selatan dalam rangka memenuhi undangan dari lembaga penelitian internasional yang bernama “Social Aspects of HIV and AIDS Research Alliance (SAHARA)”, untuk menjadi salah satu pembicara kunci dalam the 6th SAHARA Conference 2011  yang bertemakan “Are We Turning the Tide on HIV/AIDS – Social, Political and Economic Landscape on HIV Prevention and Response”, yang diselenggarakan dari tanggal 28 November 2011 sampai 2 Desember 2011, bertempat di Nelson Mandela Metropolitan University, Port Elizabeth,  bertepatan dengan Hari AIDS sedunia tanggal 1 Desember 2011
Kehadiran Dr. Sumarjati Arjoso yang didampingi oleh Konsul Konsuler Vedi Kurnia Buana dan dua Staf dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Cape Town pada konperensi yang dihadiri oleh delegasi dari 34 negara terdiri dari berbagai lapisan masyarakat antara lain menteri, anggota parlemen, para peneliti,  pejabat pemerintahan, perwakilan negara asing serta lembaga internasional lainnya dan tidak ketinggalan dari kelompok orang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA) itu sangat menarik perhatian para undangan; kerana beliau merupakan satu-satunya pembicara kunci yang berasal dari wilayah Asia.
Mengambil tajuk Political Commitment on HIV/AIDS Prevention: Lesson Learned from Indonesia, Dr. Sumarjati Arjoso, yang juga anggota Asian Forum of Parliamentarians on Population and Developmen serta salah satu Ketua IAKMI (Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia)  itu, menyampaikan makalahnya  secara efektif, efisien dan langsung pada inti permasalahan yang dibahas yaitu mengenai kondisi HIV/AIDS di Indonesia dan kebijakan Pemerintah Indonesia  dalam upaya menanggulanginya.
Dr. Sumarjati mengakui bahwa implementasi pencegahan AIDS di Indonesia menemui beberapa hambatan antara lain karena luasnya wilayah Indonesia yang terdiri lebih dari 17.500 pulau, serta kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai HIV/AIDS, dan menyampaikan penegasan kepada para peserta konperensi bahwa Pemerintah Indonesia memiliki komitmen serius dalam mengatasi permasalahan HIV/AIDS, yang antara lain dibuktikan dengan terus meningkatnya alokasi dana untuk program penanggulangan HIV/AIDS sejak tahun 2007. Pada tahun 2007 pemerintah Indonesia menetapkan dana program HIV/AIDS sebesar Rp. 88,1 miliar dan pada tahun 2011 angka tersebut meningkat menjadi Rp. 136,4 miliar. Selain itu Pemerintah Indonesia juga telah membentuk Komisi Penanggulangan AIDS di tingkat nasional, provinsi maupun kabupaten/kota yang telah memiliki strategi dan rencana aksi penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia.
Menutup paparannya, Dr. Sumarjati Arjoso yang pernah menduduki berbagai jabatan penting di Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial dan terakhir sebagai Kepala BKKBN Pusat, menyatakan bahwa komitmen politis yang kuat dari para pemimpin negara dan parlemen merupakan faktor penting di dalam memaksimalkan keterlibatan masyarakat serta pemberdayaan sumber daya yang dimiliki dalam upaya pencegahan penyebaran HIV/AIDS; karena komitmen politis yang kuat juga berperan di dalam meningkatkan keterbukaan dan kepedulian terhadap mereka yang positif mengidap HIV/AIDS. 
Anggota DPR-RI ini menegaskan bahwa strategi dan program pencegahan HIV/AIDS tidak bisa dilaksanakan hanya dengan wacana, namun harus diwujudkan dengan tindakan secara lintas sektoral serta melibatkan masyarakat. Dengan lantang beliau menyatakan “Not by NATO (No Action Talk Only)”.
Menariknya pemaparan Dr. Sumarjati Arjoso tersebut dibuktikan dengan applaus yang diterima, ucapan selamat dan permintaan salinan makalah oleh para hadirin.
Selain menyampaikan paparan tentang HIV/AIDS, dalam konperensi tersebut isteri politikus senior Amin Arjoso ini juga menggunakan forum konperensi itu untuk mempromosikan Indonesia melalui penampilannya dengan mengenakan kain dan kebaya serta memberikan gambaran mengenai keanekaragaman dan keindahan budaya Indonesia serta mengajak hadirin untuk berkunjung ke Indonesia. Ajakan beliau tersebut disambut dengan antusias oleh para hadirin yang langsung menyatakan keinginannya berkunjung ke Indonesia.
Konferensi Internasional SAHARA ke-6 tersebut terlaksana berkat kerja sama antara SAHARA dengan Human Sciences Research Council (HRSC), Nelson Mandela Metropolitan University (NMMU), dan fokus pada pertukaran pengalaman serta pendapat dari berbagai elemen pemerintah dan masyarakat di berbagai negara, khususnya pada aspek-aspek sosial dari HIV/AIDS dalam rangka meningkatkan pencegahan penularan HIV/AIDS yang efektif, serta mengimplementasikan kebijakan dan pendekatan di dalam perawatan dan kepedulian terhadap mereka yang positif mengidap HIV/AIDS.
Optimisme Ketua konferensi, Prof. Nancy Phaswana-Mafuya terhadap hasil yang akan dicapai dari konferensi ini, diperlihatkan melalui pernyataan bahwa dengan adanya pertukaran pendapat dan pikiran serta kerjasama di antara berbagai pengambil kebijakan, peneliti dan komunitas masyarakat, sebuah solusi nyata dan efektif terhadap permasalahan AIDS akan tercapai. Konperensi SAHARA berikutnya akan diselenggarakan di Dakkar, Senegal pada tahun 2013.

Port Elizabeth, 2 Desember 2011.