www.indonesia-capetown.org.za
WHAT'S NEW

Sunday, 16 Oktober 2011

KJRI DI CAPE TOWN  SEMARAKKAN ACARA JOINT ISSUE  OF STAMPS INDONESIA-AFRIKA SELATAN DENGAN NUANSA MAKASSAR

Perangko Bersama Indonesia – Afrika Selatan, secara resmi diluncurkan pada hari Sabtu, tanggal 15 Oktober 2011jam 13.00 waktu setempat. Peresmian yang   ditandai dengan unveiling perangko bersama oleh kedua belah pihak itu dilaksanakan  di Crystal Tower Hotel & Spa, Cape Town . Dalam hal ini pihak Indonesia diwakili oleh Duta Besar RI untuk Afrika Selatan dan pihak Afrika Selatan diwakili oleh Wakil Menteri Komunikasi.

Peluncuran perangko bersama yang dihadiri oleh beberapa petinggi kedua pemerintah, termasuk Konsul Jenderal RI di Cape Town, Sugie Harijadi itu, dilakukan untuk menandai peringatan 300 tahun hubungan sejarah Indonesia dengan Afrika Selatan , ini terlihat dari perangko yang diluncurkan yaitu menampilkan rumah tradisional, seni pertunjukan, kerajinan, suku dan kehidupan masyarakat kedua negara serta figur penting bagi  Afrika Selatan dan Indonesia.

Yang menarik dari pemilihan figur penting bagi kedua pihak yang dapat ditampilkan adalah dipilihnya Syekh Yusuf Al-Makassari Al-Bantami, seorang ulama besar dari Kerajaan Goa, Sulawesi Selatan yang diasingkan oleh Kolonial Belanda ke the Cape of Good Hope (Cape Town) pada abad ke-16 yang lalu.   Kiranya hal ini dapat dimengerti karena Syekh Yusuf diakui sebagai pahlawan nasional di kedua negara, Indonesia dan Afrika Selatan. Selain itu, pemilihan Syekh Yusuf sebagai figur yang ditampilkan dalam perangko bersama juga didasari atas asumsi bawa Syekh Yusuf diterima dan dinilai sebagai tokoh pertama yang menjembatani hubungan Indonesia dengan Afrika Selatan, pada abad ke-16. Oleh karena itu tidaklah heran jika kemudian Makassar, tempat Syekh Yusuf berasal juga ditampilkan dalam perangko melalui Rumah Adad Balla Lompoa.

Mencermati bahwa Makassar merupakan salah satu fokus dalam perangko bersama yang akan diluncurkan untuk menandai peringatan 300 tahun hubungan sejarah Indonesia dengan Afrika Selatan yang peresmiannya dilakukan di Cape Town; Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) selaku Perwakilan Konsuler Republik Indonesia di Afrika Selatan yang berkedudukan di Cape Town turut aktif dalam mendukung acara tersebut. Dukungan itu diwujudkan melalui penampilan Tari Kipas dari Makassar yang dibawakan oleh dua gadis Afrika Selatan yang tergabung dalam sekolah seni tari EOAN Grup- Cape Town. Dimana penampilan kedua gadis Afrika Selatan dalam busana Makasar lengkap dengan Kipas tersebut dapat mengimbangi tarian Afrika Selatan yang disajikan olerh Tuan Rumah. Bahkan tepuk tangan yang tiada hentinya membuat acara peluncuran semakin meriah dan semarak .

Setelah seluruh rangkaian acara peluncuran perangko bersama usai, semua undangan yang antara lain Wakil Menteri Komunikasi Afrika Selatan, Duta Besar RI untuk Afrika Selatan dan Konsul Jenderal RI di Cape Town dan rombongan melakukan kunjungan ke Good Wood Civic Center untuk meninjau National Stamp Show 2011. Sebelum memasuki ruang pameran, para undangan yang umumnya adalah anggota filatelis serta para pecinta perangko dan dari kalangan the have itu telah mencicipi hidangan kue-kue khas Indonesia yang berupa lapis legit mewakili daerah Betawi/Batavia, dadar gulung khas Makassar dan lumpia. Para tamu kemudian menuju stand Indonesia untuk mengagumi kekayaan seni budaya Indonesia yang berasal dari Bugis dan Makassar, dan selanjutnya keliling ke display perangko peserta yang juga dikompetisikan oleh dan untuk para Filatelis.

Stand Indonesia yang memberikan informasi tentang hubungan historis Indonesia dan Afrika Selatan, serta ditampilkannya profil Syekh Yusuf yang menjadi tokoh dalam perangko kedua negara, serta koleksi perangko dari Indonesia serta keberadaan beberapa staff KJRI,  baik laki-laki maupun  perempuan yang memakai baju tradisional khas Makassar, telah mengundang perhatian banyak pengunjung. Tidak sedikit diantara mereka yang meminta izin untuk berfoto bersama di depan stand Indonesia.

Memperhatikan respon positif yang ditunjukkan oleh para undangan dan pengunjung tersebut kiranya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa upaya KJRI di Cape Town untuk memperkenalkan Indonesia, khususnya Makassar beserta kekayaan yang dimilikinya kepada khalayak umum serta penggemar perangko tersebut tidak sia-sia. Hal itu juga telah membayar jerih payah KJRI yang telah menyiapkan program tersebut sejak setahun yang lalu. (Cape Town, 16 Oktober 2011)