www.indonesia-capetown.org.za
WHAT'S NEW

Wednesday, 28 September 2011

SENI BUDAYA INDONESIA IKUT AMBIL BAGIAN DALAM PERAYAAN NASIONAL HERITAGE DAY AFRIKA SELATAN

National Heritage Day Afrika Selatan yang jatuh pada tanggal 24 September, setiap tahun diperingati oleh warga Afrika Selatan baik dari kelompok kulit putih, kulit berwarna dan kulit hitam. Pada kesempatan tersebut masing-masing kelompok dengan caranya sendiri mengenang kebesaran warisan budaya nenek moyangnya yang berasal dari berbagai ras.

Khusus di Port Elizabeth Propinsi Eastern Cape, sekelompok warga Afrika Selatan keturunan Indonesia yang tergabung dalam Eastern Cape Malayo Cultural Society, mempunyai cara yang unik dalam memperingati National Heritage Day Afrika Selatan tersebut. Sejak bulan Juni 2011, mereka telah membuat perencanaan yang matang untuk menyelenggarakan suatu gala dinner and cultural evening dengan menampilkan berbagai seni budaya dari negeri nenek moyangnya yang berasal dari Indonesia. Untuk mewujudkan rencana itu, Bapak Yusuf Aghardien, Ketua Eastern Cape Malayo Cultural Society telah menemui Konsul Jenderal RI di Cape Town, Ny. Sugie Harijadi; dan dengan kesungguhan hati menyampaikan rencana besarnya tersebut serta sekaligus meminta dukungan Konsul Jenderal untuk menampilkan seni budaya Indonesia berupa tarian dan peragaan busana pengantin daerah Indonesia.

Rupanya, jerih payah Pak Yusuf yang menempuh perjalanan darat selama 8 jam dari Port Elizabeth ke Cape Town tersebut tidak sia-sia oleh kesanggupan yang dinyatakan Konsul Jenderal RI di Cape Town untuk membantu mewujudkan impian kelompok keturunan Indonesia yang tinggal di wilayah Port Elizabeth dan tergabung dalam Eastern Cape Malayo Cultural Society tersebut.

Untuk memenuhi janji Konsul Jenderal RI itu, pada hari Jum’at, tanggal 23 September 2011 Tim Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Cape Town yang terdiri dari Project Officer, MC, Juru Rias, Dekorator dan penari sudah berada di Port Elizabeth untuk mematangkan persiapan, utamanya melatih para peragawan dan peragawati yang terdiri dari para remaja komunitas keturunan Indonesia di Port Elizabeth yang direncanakan memperagakan pakaian pengantin Indonesia pada acara gala dinner tanggal 24 September 2011 termaksud.

Saat hari H acara gala dinner digelar, gedung Movement Hall yang berkapasitas 500 orang itu nampak megah, langit-lagit gedung dihiasi dengan aneka kain berwarna yang menggambarkan bendera Afrika Selatan dan bendera Indonesia. Sementara itu dinding yang membentang di kiri dan kanan tempat duduk dihisai dengan berbagai benda kuno bersejarah yang merupakan peninggalan nenek moyang mereka dari Indonesia, termasuk benda kuno yang didisplay adalah kitab suci Al Qur’an yang usianya 200 tahun. Di pintu masuk ke Aula, para tamu disapa oleh dua manekin laki-laki dan perempuan dalam busana Melayu Riau.   

Pada kesempatan menyampaikan sambutan, Konsul Jenderal RI di Cape Town selain mengucapkan terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada KJRI untuk menampilkan seni budaya Indonesia kepada komunitas keturunan Indonesia di Port Elizabeth, juga menyampaikan harapan hendaknya pagelaran seni budaya Indonesia yang dibawa oleh KJRI Cape Town tersebut dapat mengingatkan semua anggota komunitas yang senior terhadap budaya leluhur mereka yang pernah mereka kenal ketika masih kanak-kanak dahulu, dan sekaligus mengenalkan budaya nenek moyang tersebut kepada generasi muda dari komunitas keturunan Indonesia yang tergabung dalam Eastern Cape Malayo Cultural Society.  

Konsul Jenderal RI di Cape Town yang pada kesempatan itu mengenakan busana Melayu Riau, menutup sambutannya dengan rasa percaya bahwa apabila para generasi muda komunitas keturunan Indonesia di Eastern Cape Malayo Cultural Society dapat mengenal seni budaya dari negeri asal para leluhurnya, yaitu Indonesia, niscaya mereka akan semakin mencintai budaya tersebut dan berusaha untuk turut melestarikannya.

Selain menampilkan seni tari Indonesia berupa tari Yapong dari Betawi (Batavia) yang dahulu kala mengendalikan kota the Cape of Good Hope (sekarang Cape Town), dan juga tari Cebing Malati dari Madura, yang merupakan negeri asal Pangeran Cakraningrat ke-IV yang diasingkan ke Cape Town, dan kemudian dikenal sebagai Syech of Matura;  KJRI di Cape Town juga membawa serta beberapa busana pengantin dari daerah Indonesia yaitu Minang, Sumatera Barat; Betawi, Jakarta; Banjar, Kalimantan Selatan dan Bali, yang diperagakan oleh para remaja dari komunitas keturunan Indonesia di Port Elizabeth; dan menyajikan kue lapis legit, cemilan khas Betawi sebagai makanan penutup acara gala dinner.

Rasa kagum dan bangga terhadap seni budaya Indonesia,  terpancar dari raut muka para hadirin ketika melihat para generasi muda mereka berlenggak lenggok memperagakan busana pengantin daerah Indonesia, demikian halnya ketika para penari dari EOAN Grup Cape Town yang nota bene adalah remaja dari komunitas Western Cape Malay sedang tampil di atas panggung. Perasaan yang sama muncul pada para generasi muda, yang tampak dari keengganan para peragawan dan peragawati untuk melepas busana pengantin daerah Indonesia  yang mereka kenakan, dan seringnya mereka berfoto dengan pakaian tersebut.

Gala dinner yang berakhir menjelang jam 23.00 itu, ditutup dengan pertunjukan ratieb (debus) yang diperagakan oleh sekelompok orang dari komunitas Eastern Cape Malay. Pertunjukan ini menandakan bahwa seni budaya Indonesia yang dibawa oleh nenek moyang mereka dari Indonesia masih tetap dijaga dan dipertahankan.

Menurut Konsul Muda Erry Kananga, KJRI di Cape Town dengan sengaja mengusung budaya Melayu untuk memeriahkan Gala Dinner dalam memperingati National Heritage Afrika Selatan oleh kalangan keturunan Indonesia tersebut, dengan maksud selain untuk mengingatkan komunitas keturunan Indonesia yang senior, dan mengenalkan kepada para generasi mudanya, terhadap seni budaya Indonesia, negeri asal nenek moyang mereka; sekaligus juga untuk meluruskan sejarah asal usul komunitas Cape Malay yang seringkali diasosiasikan kata Malay dengan Malaysia.

Sedangkan penampilan artis (penari, peragawan dan peragawati) yang keseluruhannya dari generasi muda Komunitas Cape Malay, selain dimaksudkan untuk menumbuhkan perasaan bangga dan ikut memiliki seni budaya Indonesia sebagai bagian dari heritage mereka yang harus dipelihara; hal itu juga sejalan dengan visi KJRI di Cape Town yang memanfaatkan potensi di wilayah kerjanya guna menunjang terwujudnya kepentingan Indonesia dan utamanya yang ada di wilayah kerja KJRI di Cape Town.(Cape Town, 28 September 2011)