HALAL BIHALAL DI WISMA INDONESIA CAPE TOWN LENGKAPI PERAYAAN HARI KEMENANGAN BAGI UMAT ISLAM

Melengkapi puncak kegiatan Safari Ramadan 2011 di Cape Town; setelah Shalat Ied yang diselenggarakan di Aula Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Cape Town pada tanggal 31 Agustus 2011, pada hari yang sama, Konsul Jenderal RI di Cape Town Sugie Harijadi mengadakan open house untuk halal bihalal dengan seluruh staf KJRI dan masyarakat Indonesia di Cape Town. Seperti tahun sebelumnya acara tersebut diadakan sebagai ungkapan merayakan hari kemenangan setelah selama satu bulan menunaikan ibadah puasa. Open house tersebut diadakan di Wisma Indonesia Cape Town yang terletak di 56 Edinburgh Drive, Bishopcourt, Cape Town, dimulai jam 12.00.
Berkenaan dengan acara tersebut, Wisma Indonesia di Cape Town yang luas tanahnya 3000m2 dengan bangunan gaya Boer (Belanda) seluas 600 m2, dihias sedemikian rupa agar tampil beda dengan hari-hari biasa. Sebagaimana layaknya pesta kebun, halaman belakang wisma disulap menjadi tempat makan bagi para undangan dengan tenda-tenda gazebo untuk menaungi meja dan kursi sehingga seluruh undangan dapat menikmati hidangan dengan nyaman. Walaupun udara masih terasa dingin (bahkan malam sebelum Idul Fitri kota Cape Town diguyur hujan lebat dan angin kencang), namun oleh yang Kuasa siang itu dianugerahi cuaca cerah dan hangat, sehingga halal bihalal dapat berlangsung dengan cukup meriah.
Beberapa menit sebelum acara halal bihalal dimulai, hampir seluruh keluarga besar KJRI (pejabat dan staf beserta keluarganya) berada di Wisma Indonesia - Cape Town. Tampak para isteri dan pejabat wanita serta anak-anak perempuan bahkan pramuwisma di lingkungan keluarga KJRI mengenakan pakaian nasional. Suasana demikian merupakan daya tarik tersendiri dimana sekalipun sudah berada jauh dari tanah air, ternyata keluarga besar KJRI di Cape Town masih sanggup memelihara dan menampilkan tradisi Indonesia dan sekaligus mengenalkan tradisi tersebut ke luar sampai ke Afrika Selatan.
Tamu yang mengalir ke Wisma Indonesia sejak jam 12.00 siang itu terdiri dari masyarakat Indonesia yang bermukim di wilayah kerja KJRI di Cape Town beserta para keluarga mereka, dan juga sejumlah ABK Indonesia yang kapalnya sedang merapat di pelabuhan Table Bay, Cape Town.
Setelah bersalaman dengan Konsul Jenderal RI dan Suami, para tamu langsung diarahkan ke tempat hidangan disajikan. Sebagaimana acara syukuran, kegiatan halal bihalal ini merupakan kesempatan bagi masyarakat Indonesia termasuk para ABK untuk melepas kerinduan mereka terhadap masakan khas kampung halaman. Pada Rabu siang itu mereka menemukan hidangan khas Lebaran berupa “Lontong Sayur”, Sambal Goreng Hati, Opor Ayam, Telur Pindang, komplit dengan Sambal, Bubuk Kedelai, dan Kerupuk. Begitu juga makanan kecil berupa Bolu Cokelat, Makaroni Schottel, Tape Uli serta buah-buahan segar melengkapi kemeriahan hidangan lebaran.
Dalam acara tersebut, keluarga besar KJRI di Cape Town, masyarakat Indonesia yang bermukim di wilayah kerja KJRI serta para ABK Indonesia berbaur satu dengan yang lainnya. Kesempatan itu merupakan momentum yang baik bagi keluarga besar KJRI di Cape Town dan masyakarat untuk saling bertukar sapa dan cerita. Karena kesibukan keseharian masing-masing sehingga diantara mereka langka memiliki kesempatan untuk bertemu, dan oleh karenanya mereka telah memanfaatkan saat halal bihalal tersebut dengan sebaik-baiknya. Bagi para ABK, acara tersebut juga digunakan untuk saling curhat baik antar sesama ABK maupun dengan staff KJRI di Cape Town; dan juga untuk saling mengenalkan diri dengan masyarakat Indonesia yang bermukim di wilayah kerja KJRI di Cape Town.
Berbaurnya masyarakat Indonesia di wilayah kerja dengan para ABK serta keluarga besar KJRI di Cape Town juga dimaksudkan oleh KJRI di Cape Town sebagai bentuk bimbingan/pembinaan agar masyarakat tidak memandang rendah ABK; demikian halnya bagi para ABK agar mereka sebagai Warga Negara RI tidak merasa diperlakukan secara berbeda.
Konsul Jenderal yang menyapa seluruh undangan dan tidak segan-segan bertukar sapa serta berbincang-bindang dengan para ABK untuk menanyakan kabar mereka, merupakan contoh yang baik bagi masyakarat Indonesia lainnya dalam menempatkan para ABK sejajar dengan masyarakat Indonesia lainnya.
Halal bihalal yang dihadiri oleh ratusan masyarakat Indonesia tersebut, yang dijadwalkan berakhir pada jam 16:00, ternyata molor hingga jam 18:00. Karena selain para tamu banyak yang betah tinggal, juga masih mengalir para tamu yang terdiri dari masyarakat Indonesia yang tinggal di luar kota Cape Town.
Sebagai tradisi yang dilakukan sejak tahun yang lalu, setiap Wisma Indonesia di Cape Town mengadakan acara, para tamu undangan, baik tamu asing maupun warga Indonesia, sebelum meninggalkan Wisma, senantiasa dibawakan bingkisan berupa “barokat”. Hal yang sama juga dilakukan pada halal bihalal tahun ini; sehingga, selalin membawa perasaan gembira atas pengalaman dan nikmat yang diperoleh pada Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1432 H ini, merekapun masing-masing juga menjinjing bingkisan “barokat” tersebut ketika meninggalkan Wisma Indonesia.
Menurut Konsul Muda Erry Kananga selaku jubir KJRI di Cape Town, sekalipun acara Halal Bihalal di Wisma Indonesia Cape Town tersebut sepertinya berlangsung secara sederhana; namun bila diperhatikan secara seksama tampak bahwa kegiatan tersebut memiliki makna yang mendalam. Yaitu pertama: prinsip kesetaraan, yang dipraktekkan oleh KJRI di Cape Town dalam melayani masyarakat Indonesia di wilayah kerjanya yang ditampilkan melalui konsep membaur antara masyarakat Indonesia di wilayah kerja, para ABK dan Keluarga Besar KJRI di Cape Town. Kedua adalah bagaimana cara KJRI mendidik masyarakat Indonesia untuk mencintai budaya dan tradisi Indonesia, untuk itu Pimpinan Perwakilan RI di Cape Town memulainya dari lingkungan dalam dahulu; yaitu dimulai dari anak-anak, ibu-ibu, pejabat wanita sampai Konsul Jenderal sendiri yang selalu mengenakan pakaian nasional pada setiap acara di dalam maupun di luar lingkungan KJRI Cape Town. (Cape Town, 2 September 2011)