
Kegiatan promosi ilmu pengetahuan tentang Budaya Islam di Indonesia yang diselenggarakan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Cape Town dalam format Safari Ramadan 2011 di wilayah Western Cape, Afrika Selatan berakhir sudah. Kegiatan yang dimulai pada tanggal 15 Agustus 2011 melalui diskusi dan tarawih bersama di Masjid Darun Nain, Wynberg ; kemudian disusul dengan berbagai kegiatan yaitu di Jumua Mosque (16 Agustus), tausiah di Pesantren Putri Fatimatuz-Zahza di Masjid Pelican Heights (18 Agustus) ; kegiatan di Masjid Claremont-Cape Town (18 Agustus) ; khutbah Jumat di Masjid Habibia Soofie Saheb (19 Agustus); kuliah subuh di Islamiyah High Scholl Masjidul Furqan, Lansdowne (20 Agustus); kuliah subuh di Al-Jamiaa Mosque, Claremont (21 Agustus) dan kuliah umum di Strand Community Madrasah, Strand (22 Agustus); mencapai puncaknya pada tanggal 26 Austus 2011 yang dilaksanakan di Masjid Nurul Latief, Kramat Maccasar melalui Ibadah Sholat Jumat.
Kramat Makassar atau dikenal sebagai Macassar Faure adalah salah satu makam kramat yang ada di daerah Zandvliet, dekat dengan muara Eerste River yang merupakan area pertanian, di wilayah Western Cape, Afrika Selatan. Dinamakan Kramat Makassar karena di tempat ini, seorang Ulama Besar Indonesia yang bernama Syech Yusuf al Makasari al Bantami yang berasal dari Makasar dimakamkan. Syech Yusuf adalah keturunan raja Goa dan menantu Sultan Ageng Tirtayasa (Sultan Banten) yang dibuang ke the Cape of Good Hope (sekarang Cape Town) pada abad ke-17 sebagai political exile karena perlawanannya terhadap penjajah Belanda.
Selama masa pembuangan di Cape Town (1695) Syech Yusuf dan para pengikutnya ditempatkan di daerah Zandvliet tersebut yang jauh dari keramaian kota, hingga beliau wafat pada tahun 1699 . Karena mayoritas pengikut Syekh Yusuf berasal dari Makassar, maka Zandvliet dikenal juga dengan nama Kampung Makassar ( hingga sekarang nama itu masih dipergunakan).
Selain makam Syech Yusuf, di Kampung Makassar juga terdapat satu masjid yang diberi nama Nurul Latief. Kedua bangunan tersebut , pada tahun 2002, dipugar dengan dana bantuan dari Presiden RI (waktu itu Presiden Megawati Sukarnoputri) sehingga menjadi bangunan yang megah di wilayah itu. Pemugaran masjid (dengan memasukkan nuansa Makasar) itu selesai pada tahun 2005 dan diresmikan oleh Wakil Presiden M. Yusuf Kalla, saat beliau melakukan kunjungan resmi ke Afrika Selatan pada bulan September tahun 2005. Masjid Nurul Latief yang semula hanya mampu menampung 200 jemaah, setelah pemugaran kini dapat menampung 1500 jemaah. Di masjid ini pula setiap tahun digunakan untuk sholat Jumat terkait dengan peringatan Easter/Paskah berupa Easter Festival.
Penyelenggaraan Safari Ramadan 2011 di Masjid Nurul Latief, sengaja dijadwalkan pada hari Jumat, tanggal 26 Agustus 2011, yaitu selain memanfaatkan momentum Jumat terakhir pada bulan Ramadan 2011, juga KJRI ingin memanfaatkan momentum acara khataman Al-Qur’an yang dilaksanakan di masjid tersebut pada setiap Ramadan.
Pada khotbah Jumat tersebut, Prof. Salman Harun mengulas (tafsir) beberapa ayat dalam Al-Qur’an yang mengabarkan tentang penciptaan alam semesta , kemudian menghubungkan ayat-ayat tersebut dengan isu-isu terbaru yang berkembang di dunia sekarang ini, untuk menunjukkan bahwa apa yang dikabarkan oleh Al-Qur’an adalah relevan bagi kehidupan manusia di zaman sekarang . Selain itu, Prof. Salman juga mengulas beberapa ayat mengenai penciptaan manusia serta kedudukan pria dan wanita di dalam Islam yang setara. Tafsir ini dianggap penting untuk meluruskan pandangan yang menyatakan bahwa Islam adalah agama yang merendahkan perempuan.
Tafsir beberapa ayat dalam Al-Qur’an tersebut dipandang penting untuk disampaikan dalam kegiatan Safarai Ramadan 2011 ini, selain untuk membarikan gambaran bahwa budaya Islam di Indonesia telah modern, dimana kaum wanita dapat menikmati kebebasan dalam menjalankan perannya, juga penting dalam rangka membangun image bahwa umat Islam di Indonesia adalah umat yang ingin berkembang dan menggunakan ajaran Islam secara seimbang yaitu untuk kebaikan di dunia dan di akhirat.
Usai acara di Masjid Nurul Latief, Grup Safari Ramadan 2011 KJRI Cape Town yang terdiri dari Konsul Dharmaginta Tahnos, Prof. Salman Harun, Nur. Fadly Tams dan beberapa Staf KJRI di Cape Town melakukan zaiarah ke makam Syekh Yusuf , ulama besar Indonesia yang secara tidak langsung diakui peran besarnya oleh pemerintah kolonial Belanda sebagaimana terbaca dalam monumen menuju ke pusaranya yang bertuliskan “In Memory of Syekh Yusuf, Martyr and Hero of Bantam 1626 – 1699. This Minaret was Erected by Hajee Sullaiman Shahmahomed, in the Reign of King George V, May 1925”.
Setelah bakda Ashar, Grup Safarai Ramadan meninggalkan makam ulama besar Indonesia yang diakui sebagai pahlawan nasional Afrika Selatan dan memperoleh penghargaan berupa The Order of Supreme Companions of OR Tambo (Gold) sebagai bentuk pengakuan pemerintah Afrika Selatan terhadap perjuangannya tersebut kembali ke Cape Town yang berjarak tempuh 45 menit.
(Cape Town, 27 Agustus 2011)