
Seperti Ramadan tahun 2010, pada Ramadan tahun 2011 Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Cape Town menyelenggarakan program Safari Ramadan, yang pelaksanaaannya dimulai pada tanggal 15 Agustus 2011 dan akan berakhir pada sehari sebelum Idul Fitri 1 Syawal 1432 H.
Kegiatan yang menghadirkan Prof. Dr. Salman Harun Ahmad, Guru Besar dan ahli tafsir Al-Qur’an dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini diselenggarakan dengan tujuan ke luar sebagai promosi ilmu pengetahuan, yang dalam kaitan ini adalah tentang Islam di Indonesia; sedangkan tujuan ke dalam adalah dalam rangka pelaksanaan tugas pembinaan dan perlindungan terhadap WNI di wilayah kerja.
Selain itu, melalui program Safari Ramadan, KJRI juga memanfaatkannya sebagai wahana untuk meningkatkan tali silaturahmi dengan para Tokoh Muslim Afrika Selatan yang berdomisili di wilayah kerja KJRI, dan khususnya yang berada di Cape Town dan sekitarnya, tentunya yang memiliki sikap positif terhadap Indonesia. Untuk itulah, pada hari Selasa, tanggal 23 Agustus 2011, telah diselenggarakan acara Buka dan Tarawih bersama Tokoh di Cape Town, yang berlangsung di Wisma Indonesia Cape Town.
Tampak hadir dalam acara yang digagas oleh Konsul Jenderal RI di Cape Town, Ny. Sugie Harijadi itu, antara lain adalah Syekh Shahid Essau Speaker of Parliament of the Western Cape, Shrieff Abbas Ketua Yayasan Jamiatul Qurra (sebuah madrasah di Cape Town) sekaligus pengusaha rempah-rempah, M. Thahir Salie, mantan penasehat senior Gubernur Western Cape peride 2006-2008; Inspektur International Transport Workers Federation (ITF) yang merupakan long standing partner KJRI dalam mengurus para ABK Indonesia dan beberapa anggota Moslem Judicial Council (Majelis Ulama di Afrika Selatan).
Para undangan yang umumnya didampingi para isteri tersebut, tampak sangat menikmati sajian pembuka berupa hidangan tajil khas Indonesia (wajik ketan, bolu tape, kolak candil, lapis legit, dan lainnya) demikian halnya ketika makan malam yang dilaksanakan setelah Shalat Maghrib berjamaah dengan imam Prof. Dr. Salman Harun; tampak semua tamu menikmati hidangan gulai kambing, kari sapi, ayam kremes, tumis sawi dan tahu serta kerupuk udang yang disiapkan oleh juru masak Wisma Indonesia.
Dari meja Konsul Jenderal terdengar diskusi yang serius serta menarik yang terjalin akrab antara Konsul Jenderal, Speaker, Mr. Thahir Salie dan Mr. Shrieff Abbas Ketua Yayasan Jamiatul Qurra. Lamat-lamat terdengar penjelasan Konsul Jenderal tentang perlunya meluruskan pengertian tentang asal usul Cape Malay (di kalangan komunitas mereka) bahwa secara genealogis, nenek moyang mereka sebenarnya berasal dari Indonesia, dan bukan dari tempat lain. Usulan Konsul Jenderal itu memperoleh sambutan positif dari partner diskusinya yang umumnya memiliki nenek moyang dari Indonesia. Ternyata diskusi yang berlangsung di meja ini tidak terbatas pada masalah sosial budaya, namun juga tentang kemungkinan melakukan kerjasama ekonomi dan perdagangan, kerjasama di bidang pendidikan, perlindungan WNI di wilayah kerja serta tentunya kehidupan muslim di Indonesia dan toleransi umat beragama di Indonesia.
Sambil menikmati hidangan penutup, Konsul Jenderal berkesempatan menyampaikan berbagai terobosan yang telah dan akan dilakukan KJRI di wilayah kerjanya, dalam upaya merajut kembali kedekatan Indonesia dan Afrika Selatan di masa lalu, salah satunya adalah dengan mendirikan Indonesia Heritage Corner (IHC), yang pada tahun 2011 ditargetkan sebanyak 4 (empat) IHC, yaitu 2 di Provinsi Eastern Cape (Port Elizabeth) dan 2 di Provinsi Western Cape (Cape Town dan Simon’s Town). Ketika mendengar penjelasan tentang tema the Ancient Link of Batavia/Betawi and Cape of the Good Hope telah diambil untuk IHC di IPSA (Cape Town); para tamu langsung merespon positif sehingga perbincangan menjadi makin hangat.
Yang paling menarik dari diskusi di meja Konsul Jenderal adalah ketika tuan rumah menyampaikan bahwa rencananya untuk mendirikan IHC (dengan tema The History of Malayu Kingdom) di salah satu museum di Port Elizabeth hingga sekarang tidak ada progress karena komunitasnya masih belum menyampaikan konfirmasi, Speaker langsung menghubungi ketua trustee untuk menyampaikan concern-nya terhadap masalah itu. Melalui itikad baik Speaker tersebut, semoga cita-cita untuk mendirikan IHC di Museum Port Elizabeth dapat terwujud.
Saking menariknya diskusi, acara yang direncanakan berupa iftar dan shalat maghrib bersama, menjadi ajang diskusi yang berlanjut sampai pukul 21.00.
Rangkaian acara malam itu, ditutup dengan sesi foto bersama para tamu yang hadir dengan Keluarga Besar KJRI di Cape Town. Dan kepada para tamu di sampaikan barokat.
Menurut Konsul Muda Erry Kananga, menyadari bahwa hubungan sejarah dan budaya antara Indonesia dan Afrika Selatan telah terjalin sejak beberapa abad yang lalu, promosi yang kami lakukan sifatnya lebih merupakan pemeliharaan dan peningkatan citra Indonesia di wilayah kerja daripada pengenalan. Karena itu pula, hidangan yang disajikan juga kita pilih yang mudah diingat, misalnya selama ini di kalangan komunitas Cape Malay hanya dikenal makanan curry dengan cita rasa India, nah pada acara KJRI kita kenalkan Kari dan Gulai dengan cita rasa Indonesia; toh semua bumbu-bumbunya juga ada di perusahaannya Mr. Shrieff Abbas. (Cape Town, 25 Agustus 2011)