
Pelabuhan Table Bay di Cape Town, merupakan salah satu pusat distribusi dan logistik (hub) di wilayah Afrika, khususnya bagi kapal-kapal penangkap ikan dan cargo (fishing and cargo vessels). Sehingga, pada waktu-waktu tertentu di pelabuhan ini tampak sejumlah kapal penangkap ikan maupun kapal kargo yang bersandar.
Dari lalu lintas kapal-kapal penangkap ikan yang keluar masuk pelabuhan Table Bay di Cape Town itu, secara tidak langsung terdeteksi adanya sekitar 3000 WNI yang bekerja sebagai Anak Buah Kapal (ABK) di berbagai kapal penangkap ikan milik asing (berbendera Jepang, Taiwan, Korea dan Cina). Informasi keberadaan mereka ini baru terdeteksi oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Cape Town, bilamana mereka mendapat kasus dan menghubungi KJRI.
Para WNI-ABK tersebut umumnya masuk wilayah Afrika Selatan (dari Indonesia) melalui Pelabuhan Udara Internasional Cape Town, untuk kemudian ditempatkan di kapal-kapal ikan yang tengah bersandar di Pelabuhan Table Bay, dan selanjutnya melaut.
Diperkirakan, jumlah WNI- ABK yang lalu lalang di Cape Town rata-rata sekitar 50 orang per minggu. Pada bulan Juni sampai September, saat jumlah kapal ikan yang transit di Pelabuhan Table Bay Cape Town mencapai puncaknya, maka jumlah WNI-ABK pun bisa mencapai lebih dari 200 orang. Sementara pada bulan bulan November sampai Februari, jumlah mereka berkisar antara 20-30 orang per minggu.
Kenyataan bahwa kota Cape Town merupakan titik disembarkation dan sekaligus embarkation bagi para WNI-ABK tersebut, tentu memiliki makna tersendiri KJRI di Cape Town dalam melaksanakan tugasnya di bidang perlindungan dan pembinaan WNI di wilayah kerjanya, mengingat keberadaan para WNI-ABK tersebut juga tidak terlepas dari permasalahan yang cukup rumit, yang mereka hadapi di tempat kerjanya, yang tidak jarang memerlukan keterlibatan KJRI di Cape Town untuk membantu menyelesaikannya.
Disamping itu, kehadiran sejumlah WNI-ABK tersebut di Cape Town menjadikan KJRI di Cape Town, selaku salah satu ujung tombak Pemerintah RI yang berada di Afrika Selatan, semakin penting, utamanya terkait dengan Kepentingan Nasional Indonesia dalam melindungi kepentingan bangsanya (c.q. WNI) yang berada di luar negeri. Dalam kaitan itu, KJRI di Cape Town selaku Perwakilan Konsuler RI, dituntut untuk melaksanakan fungsinya di bidang pelayanan dan perlindungan bagi kepentingan WNI di wilayah kerjanya, yang antara lain meliputi upaya pencegahan (prevention) dan deteksi dini (early detection) guna meminimalkan potensi permasalahan agar tidak menjadi besar dan semakin rumit. Dalam melaksanakan tugas ini dan sekaligus sebagai wujud kepedulian, KJRI di Cape Town telah membuka Kelas Life Skills untuk para WNI-ABK, yang secara resmi dibuka pada tanggal 11 Mei 2011, yang salah satu tujuannya adalah untuk meminimalkan persoalan yang dihadapi oleh para WNI-ABK di tempat kerjanya.
Melalui program Safari Ramadan 2011, KJRI di Cape Town memanfaatkan momentum Ramadan sebagai wahana untuk kegiatan pembinaan Masyarakat Indonesia di wilayah kerjanya, termasuk mereka para WNI-ABK. Khusus untuk para WNI-ABK ini, selain diberikan dalam format siraman rohani yang diselenggarakan setiap hari Rabu (sebagai pelajaran tambahan di kelas life skills), pada hari Minggu tanggal 21 Agustus yang lalu juga telah diselenggarakan kegiatan buka dan tarawih bersama, bertempat di pelabuhan Table Bay Cape Town, yang dapat berlangsung berkat fasilitas yang dari Mr. James Cook yang meminjamkan bengkelnya (bengkel kapal).
Bengkel kapal (dok) yang telah disulap menjadi tempat acara dan sekaligus mushola itu, nampak meriah bak tempat hajatan; di luar digelar dua tenda yang penuh dengan makanan yang keseluruhannya disiapkan oleh KJRI di Cape Town. Lebih dari 100 ABK yang hadir pada kegiatan ini, ditambah seluruh keluarga besar KJRI di Cape Town (Pimpinan, Pejabat dan Staf beserta keluarga masing-masing, termasuk Dhama Wanita Persatuan/DWP), Inspektur ITF, Pejabat Imigrasi, Mr. James Cook dan tidak ketinggalan Pdt. Nimrot Rajaguguk (kelas life skills) dan Prof. Salman Harun (ulama). Tampaknya hujan dan udara yang dingin tidak menghalangi niat para ABK untuk dapat menghadiri acara buka puasa dan tarawih bersama dengan KJRI di Cape Town ini.
Begitu waktu buka puasa tiba, kue tajil (pisang goreng, bolu kukus, samosa, martabak manis) yang dipersiapkan di tenda habis manis dalam sekejap, menandakan bahwa kerinduan para ABK kepada suasana di kampungnya yang nun jauh di tanah air setidaknya terobati. Demikian halnya ketika acara makan malam yang dilaksanakan seusai shalat maghrib tiba, dengan hidangan berupa ayam bumbu merah, semur telur, tumis sayuran dan kerupuk.
Pada pelaksanaan sholat magrib, isya dan tarawih, kepada para ABK dipersilahkan untuk bertindak sebagai bilal (mengumandangkan azan) yang kenyataannya banyak diantara mereka fasih dalam melafalkannya dan bahkan piawai.
Menurut Konsul Muda Erry Kananga (Jubir KJRI di Cape Town), pola yang diambil Pimpinan KJRI di Cape Town dalam melaksanakan tugas pembinaan para WNI-ABK yang diselenggarakan melalui acara buka dan tarawih bersama ini memiliki dua makna, pertama adalah mengajarkan kepada semua di KJRI untuk menjalankan ibadah Ramadan sambil mengurus bangsa Indonesia di wilayah kerja. Dalam kaitan ini, bagi keluarga KJRI yang berminat membawa makanan untuk disumbangkan pada acara buka bersama ya dipersilakan; makna kedua adalah dengan melibatkan para ABK tersebut untuk ambil bagian pada acara (misalnya sebagai bilal), kiranya mereka tetap memiliki kepercayaan sebagai manusia yang normal (dalam arti bukan direndahkan martabatnya, karena berprofesi sebagai ABK). Dengan demikian, diharapkan para ABK memiliki semangat baru untuk menghadapi kerasnya kehidupan di lautan.
Bagi KJRI di Cape Town, keberhasilan dalam menangani masalah pembinaan dan perlindungan WNI di wilayah kerjanya (utamanya WNI-ABK), dan khususnya apabila prevention dan early detection dapat dilaksanakan dengan sebaik mungkin, dapat diperkirakan bisa mendeteksi kemungkinan terjadinya trafficking in person secara dini. (Cape Town, 23 Agustus 2011)