Acara Wonderful Indonesia di Open Amphi theatre V&A Waterfront dibuka dengan tari Ronggeng Blantek Betawi
Tari Bajidor Kahot yang merupakan perpaduan antara budaya Bali dan Sunda turut memeriahkan di hari terakhir rangkaian kegiatan Wonderful Indonesia, 15 – 17 Juli 2011
Penonton ikut berjoget mendengarkan irama lagu Rek Ayo Rek dari Jawa Timur
Pengunjung yang memadati area Amphitheatre V&A Waterfront terkesima dengan pesona tari Merak
Kekompakan penari dalam membawakan Tari Saman membuat decak kagum penonton
Pengunjung tertarik untuk mencoba belajar membatik di stand batik workshop di Craft Market Centre V&A Waterfront
Sambutan yang benar-benar wonderful itulah yang terjadi pada hari Minggu Siang, tanggal 17 Juli 2011 di panggung terbuka, Amphitheater, Victoria & Alfred (V&A) Waterfront, ketika acara “Wonderful Indonesia Open Air Cultural Performance” digelar dari jam 13.00-14.30 waktu setempat.
Acara yang dipandu oleh Konsul Muda Sosial Budaya Erry Kananga itu benar-benar dapat menyedot perhatian orang yang lalu lalang di daerah waterfront yang merupakan center kota Cape Town. Bagaimana tidak…? Dari musiknya yang sangat berbeda dengan musik-musik yang biasa diperdengarkan oleh orang-orang Afrika Selatan saja sudah membuat orang terpesona, apalagi saat melihat kostum para penari yang sedang berlenggak-lenggok membawakan beberapa tarian daerah dari kepulauan Indonesia.
Siang itu, tribun yang dapat menampung penonton 500-750 orang itu hampir tidak ada tempat yang tersisa, belum lagi yang nonton dari beberapa rumah makan dan pertokoan yang lokasinya di lantai atas melingkari panggung terbuka tersebut.
Menurut Nur Fadli Tams, Bendaharawan KJRI di Cape Town yang menjadi Koordinator Lapangan kegiatan tanggal 17 Juli tersebut; alasan KJRI di Cape Town memilih panggung terbuka Amphitheater di V&A Waterfront sebagai tempat kegiatan adalah kenyataan bahwa waterfront merupakan pusat kegiatan para turis lokal dan manca negara yang berkunjung ke Cape Town. Oleh karena itu, guna lebih mengenalkan Indonesia sampai ke tingkat people to people, kiranya tempat tersebut yang paling pas. Demikian halnya KJRI sengaja memilih jenis tarian yang membangkitkan semangat (Ronggeng Blantek dari Betawi, Bajidor Kahot dari Jawa Barat).
Hanya sayangnya pada waktu kegiatan yang dipersiapkannya itu berlangsung, Tams sendiri tidak dapat mengikuti dari dekat karena pada saat yang sama ia harus bertugas ke Pretoria, tapi ia sudah kebagian tugas sebagai penabuh drum pada saat grup angklung harus tampil tanggl 15 Juli 2011 yang lalu. Sehubungan dengan itu, Konsul Ekonomi Dharmaginta Thanos sebagai PO “Wonderful Indonesia”, menjadi penanggung jawab penyelenggaraan kegiatan “Wonderful Indonesia Open Air Cultural Performance” tanggal 17 Juli 2011 ini.
Tepuk tangan para penonton menggema ketika Tari Merak dari Jawa Barat selesai ditampilkan dan Erry sebagai pembawa acara menyampaikan kepada hadirin bahwa kiranya hanya di Indonesia ada merak yang berwarna pink, biru dan jingga.… oleh karenanya datanglah sendiri ke Indonesia untuk menyaksikan merak yang beraneka warna itu…!
Seraya menyuguhkan beberapa kekayaan budaya Indonesia, panitia gabungan dari KJRI di Cape Town dan Kembudpar membagikan door prize dan berbagai brosur serta flyer yang isinya berbagai informasi tentang Indonesia. Pada saat semua sedang sibuk ini, salah satu pemilik biro perjalanan setempat melakukan “stealing the stage” dengan mendomplengkan flyernya agar seolah-olah promosi tersebut bagian dari perusahaannya. Namun, kejadian tersebut dapat dideteksi dini sehingga promosi Indonesia yang oleh KJRI di Cape Town telah dengan susah payah dijalankan itu tidak ditunggangi oleh pihak luar.
Menanggapi insiden tersebut, Konsul Jenderal RI di Cape Town, Sugie Harijadi yang kebetulan menyaksikan sendiri kejadiannya concern atas peristiwa tersebut. Sebagai Kepala Perwakilan yang bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas dan fungsi Perwakilan RI di Cape Town, ia tidak capai-capainya mengingatkan seluruh jajaran yang ada di perwakilan yang dipimpinnya itu agar senantiasa waspada, karena orang yang oportunis itu ada dimana-mana, termasuk juga di wilayah kerjanya. Disamping itu, yang senantiasa harus diingat oleh keluarga besar KJRI adalah bahwa semua dana operasional Perwakilan RI di Cape Town itu menggunakan devisa negara, oleh karenanya, jangan mau kalau dimanfaatkan untuk kepentingan orang luar/asing.
Acara di panggung terbuka diakhiri dengan berbagai lagu daerah Indonesia yang dinyanyikan oleh penyanyi dari Jakarta yang diikuti oleh para pengunjung dengan naik ke panggung dan menari-nari.
Selesainya acara di panggung terbuka, bukan berarti kegiatan promosi Indonesia telah selesai, karena di Waterfront Craft Market & Wellness Centre diselenggarakan pameran batik serta demo membatik yang dilakukan oleh pembatik dari Jakarta, serta demo Kopi Indonesia dari Bandar Kopi, Perusahaan Kopi dari Jakarta.
Tentu pengunjungnya berjubel, selain ingin difoto dalam posisi sedang membatik, juga karena dapat merasakan minum berbagai kopi enak dari Indonesia, dan yang terpenting … gratis pula…! Situasi seperti ini sangat disadari oleh Yanti Tambunan, pemilik Bandar Kopi; menurutnya, promosi itu memang memerlukan kesabaran serta biaya yang tidak sedikit.
Animo yang ditunjukkan oleh masyarakat setempat maupun turis manca negara yang sedang berkunjung ke Cape Town tersebut, kiranya dapat menjadi barometer atas pelaksanaan kegiatan Indonesia’s Festival in Cape Town, South Africa 2011: Wonderful Indonesia yang berlangsung tanggal 15-17 Juli 2011. Disamping itu, kiranya hasil kegiatan ini dapat menggugah berbagai pihak di tanah air bahwa Afrika Selatan merupakan “pasar potensial” bagi ekonomi dan pariwisata yang masih terbuka untuk Indonesia.
Menanggapi suksesnya kegiatan tersebut, Konsul Jenderal RI di Cape Town menyampaikan bahwa itu semua berkat kerja sama yang baik yang diberikan oleh semua unsur di Perwakilan RI yang dipimpinannya (pimpinan, diplomat dan pejabat lainnya, pegawai setempat, dan keluarga masing-masing) serta masyarakat Indonesia dan masyarakat setempat di wilayah kerjanya, juga oleh Kembudpar serta KBRI di Windhoek-Namibia. “Tanpa dukungan mereka semua, kegiatan promosi tersebut ya tidak akan terealisasi, karena tidak mungkin semua dapat dikerjakan sendiri!” ungkap Sugie lebih lanjut. Oleh karena itu, selaku Konsul Jenderal/Kepala Perwakilan RI di Cape Town ia menyampaikan ucapan terimakasih kepada semua pihak yang telah mendukung pelaksanaan tugas dan misi-nya. (Cape Town, 19 Juli 2011)