
Suasana stand “Business Meeting & Indonesian Product Exhibition” yang dipadati oleh pengunjung dan pelaku bisnis asing yang tertarik dengan Indonesia

Wakil dari Kembudpar sedang melakukan pembicaraan serius dengan salah satu travel agent terkait Indonesia sebagai tujuan wisata

Masuknya kopi Indonesia ke wilayah kerja KJRI Cape Town merupakan hal baru, namun pemilik Bandar Kopi pantang menyerah menjaring pelaku bisnis
Keramaian di Konsulat Jenderal RI (KJRI) di Cape Town mencapai puncaknya pada hari Sabtu, tanggal 16 Juli 2011, ketika acara Wonderful Indonesia’s Bazaar mulai dibuka pada jam 10.00 waktu setempat.
Halaman KJRI yang luas itu dipenuhi oleh 2 (dua) tenda besar dan 3 (tiga) tenda kecil serta panggung pertunjukan yang hampir kesemuanya dipenuhi oleh pengunjung. Tentu dari para pengunjung tersebut ada yang datang hanya untuk melihat-lihat, membeli barang yang dijajakan di stand-stand, dan banyak pula yang datang untuk mengikuti pertemuan bisnis.
Menurut Konsul Konsuler Vedi Kurnia Buana yang menjadi Koordinator Lapangan untuk kegiatan tanggal 16 Juli tersebut, panitia sengaja melakukan pengaturan tenda secara terpisah; dalam hal ini terdiri dari tenda besar pertama untuk beberapa stand produk Indonesia (batik, craft dan asesoris perak) yang dijajakan oleh beberapa masyarakat Indonesia di Cape Town; tenda besar kedua untuk beberapa produk unggulan Indonesia yang dibawa oleh para pengusaha Indonesia yang datang langsung dari Jakarta dan Johannesburg (bandar kopi, garuda food, gabungan pembatik dari Jakarta dan KJRI di Cape Town yang menghubungkan para pengusaha dengan pabrik batik dari kota Garut Jawa barat, serta Kembudpar yang menjadi juru penerang untuk travel-travel agent). Di tenda kedua inilah pertemuan para pebisnis dari Indonesia dan pengusaha di wilayah kerja KJRI di Cape Town berlangsung dipandu oleh Konsul Ekonomi, yang selain sebagai Pejabat Pelaksana Fungsi Ekonomi, juga dipercaya sebagai Project Officer KJRI dalam kegiatan Wonderful Indonesia di Cape Town ini.
Sedangkan empat tenda kecil diatur berdekatan dengan panggung hiburan, sedemikian menariknya bagaikan di “pujasera” (pusat jajanan serba ada) yang bertebaran di Jakarta. Di tenda kecil ini para pengunjung yang berdatangan bagaikan aliran air dapat menikmati jajanan Indonesia berupa nasi goreng, mie goreng, sate ayam, mie bakso, siomay yang dijajakan oleh beberapa masyarakat Indonesia di wilayah KJRI; serta jajanan pasar berupa pisang molen, martabak manis dan asin, risoles dan mie pangsit yang dijajakan oleh ibu-ibu DWP KJRI di Cape Town, dan aneka minuman yang dijajakan di cafe anak-anak KJRI di Cape Town.
Siang itu, suasana di halaman KJRI di Cape Town yang luasnya hampir 2000 m2 disulap menjadi suasana a la pekan raya, yaitu ada stand makanan, stand produk dan hiburan, dimana para pengunjung yang datang dengan membawa tujuan serta kepentingannya masing-masing dapat terakomodasikan. Selain berbisnis dan berbelanja, para pengunjung juga dapat menikmati makanan Indonesia sambil nonton tari-tarian yang dibawakan oleh grup tari dari Jakarta (tari merak, serampang dua belas dan lain-lainnya).
Sepanjang Wonderful Indonesia’s Bazaar berlangsung, tampak Konsul Jenderal RI di Cape Town, Sugie Harijadi sesekali berada di stand KJRI di Cape Town untuk ikut menjelaskan kepada para tamu yang ingin menjalin bisnis di Indonesia, utamanya yang terkait dengan kemungkinan memasukkan batik garutan ke wilayah kerja KJRI di Cape Town; selebihnya Konsul Jenderal berada diluar tenda untuk menyapa para pengunjung bazaar yang terdiri dari berbagai lapisan masyarakat di wilayah kerja KJRI di Cape Town, yang terdiri dari kulit putih, color dan hitam dan datang dari berbagai area di wilayah kerja KJRI (yang terdekat adalah neigborhood Kantor KJRI di Cape Town dan Wisma Indonesia di Cape Town) dan yang terjauh adalah dari kota Knysna.
Rata-rata para pengunjung yang datang pada bazaar yang berlangsung hingga jam 16.00 tersebut mengetahui acara bazaar yang digelar hari Sabtu itu, dari pemberitaan yang disampaikan oleh KJRI melalui berita komunitas, Web KJRI di Cape Town serta flyer yang di drop di berbagai mall.
Di akhir acara, nampak Konsul Konsuler Vedi Buana mondar-mandir ke setiap stand untuk mengumpulkan uang donasi dari para pemilik stand. Dalam kaitan ini dijelaskan oleh Vedi mengenai komitmen awal yang diarahkan oleh Konsul Jenderal RI di Cape Town bahwa berapapun hasil yang diperoleh dari kegiatan bazaar, akan disumbangkan kepada Palang Merah Indonesia (PMI) untuk membantu aktifitas sosialnya dalam mengurus para korban bencana alam dan kegiatan sosial lainnya di tanah air. Menurut Vedi, hingga saat ini, KJRI di Cape Town telah menyampaikan sumbangan kepada PMI uang tunai lebih dari US$ 2000,- (dua ribu dollar Amerika) yang keseluruhannya diperoleh dari berbagai penyelenggaraan maupun partisipasi KJRI dalam bazaar. Sumbangan KJRI tersebut diatasnamakan DWP KJRI di Cape Town (Desember 2010), Masyarakat Indonesia di Cape Town (Februari 2011) dan Keluarga Besar KJRI di Cape Town (April 2011).
Selanjutnya Vedi menambahkan bahwa pola kerja yang ditumbuh kembangkan oleh Konsul Jenderal RI di Cape Town adalah manajemen dilaksanakan secara kekeluargaan, promosi dilaksanakan secara terpadu dengan melibatkan semua unsur yang ada di perwakilan (pimpinan, pejabat, staf, DWP dan keluarga masing-masing), masyarakat Indonesia yang ada di wilayah kerja, dan bila perlu masyarakat setempat yang bersedia membantu mensukseskan program kerja KJRI di Cape Town. Singkatnya kami semua dibiasakan untuk berpromosi sambil beramal; .....ya seperti yang dilihat sekarang ini. (KJRI di Cape Town 17 Juli 2011)