www.indonesia-capetown.org.za
WHAT'S NEW

 

Potensi dan Peluang bagi peningkatan Kerjasama Ekonomi, Perdagangan dan Investasi antara Indonesia dengan Propinsi-propinsi wilayah kerja KJRI Cape Town

KJRI CAPE TOWN, Cape Town , 1 Oktober, 2007

Konjen RI telah telah melakukan pertemuan dengan beberapa lembaga ekonomi, perdagangan dan investasi, yaitu (Western Cape Trade and Investment Promotion Agency (Wesgro); Western Cape Business Opportunities Forum (Webcof); Cape Regional Chambers; Port Elizabeth Regional Chambers of Commerce and Industry).  Pada prinsipnya mereka menyambut baik dan mendukung peningkatan kerjasama, baik antar lembaga maupun antar pengusaha Indonesia dan Afrika Selatan.

Dari hasil pengamatan KJRI, beberapa produk yang memiliki prospek pasar a.l. furnitur, bahan bangunan (lantai) dan yang sedang dijajaki pemasoknya yaitu cream pijat (spa), perhiasan perak, peralatan rumah tangga, peralatan rumah sakit, alat tulis kantor dan peralatan olahraga, dekorasi ruangan, produk makanan serta restoran Indonesia karena di propinsi Western Cape banyak orang Belanda dan orang keturunan Indonesia yang mengenal rasa makanan Indonesia. Disamping itu, busana muslim juga memiliki peluang pasar yang baik di propinsi Western Cape karena di propinsi ini terdapat jumlah komunitas muslim terbesar di Afrika Selatan. Produk Indonesia yang telah masuk dan memiliki segmen pasar di kota Port Elizabeth dan kota East London, propinsi Eastern Cape adalah furnitur, soft furnishings, curtaining, upholstry, glassware, tekstil dan pakaian. Di kota East London terdapat satu perusahaan “Naturel” yang merupakan wholesale Indonesian Décor Importers dengan nilai impor rata US$2 juta per tahun.

Dalam pertemuan dengan beberapa pengusaha Afrika Selatan di Cape Town dan sekitarnya yang mengimpor produk-produk dari Indonesia, yaitu Indofurn (Furnitur), Mansoon Trading, Kepiting Hand craft, Asmat Trading (www.asmatamber.co.za), Budaya (www.budaya.co.za), Kuno dan Trisula, diperoleh informasi sebagai berikut:

Produk-produk yang diimpor pada umumnya berasal dari Jawa Tengah, Yogyakarta dan Bali, antara lain meliputi:

  • Pertama, berbagai jenis furnitur (meja, kursi untuk ruang tamu, ruang makan, ruang kerja, lemari dan tempat tidur) tipe kolonial (antik) terbuat dari kayu dan rotan.
  • Kedua, berbagai jenis produk kerajinan (patung orang dan hewan, bingkai foto dari kayu; ukiran kayu untuk hiasan; alas piring dan gelas dari anyaman daun pandan atau bambu; album foto dari pelepah pohon pisang; lukisan prodil orang dan hewan Afrika; tempat koran dan majalah dari kayu atau anyaman bambu; gantungan jas dari kayu; tas dari anyaman daun pandan, aneka tempat lilin dari kayu dan batu, lonceng gantung dari aluminium, bambu atau kerang; celengan dari tempurung kelapa; miniatur alat musik gitar, gendang, miniatur sepeda; dan kerajinan lainnya dari kayu dan bambu serta barang-barang perhiasan untuk wanita).
  • Ketiga, tekstil dan produk tekstil, namun untuk produk ketiga ini dalam 1 tahun terakhir menurun drastis karena harganya tidak mampu bersaing dengan produk tekstil dari Cina dan Bangladesh. Pengusaha importir tekstil dan produk tekstil hingga saat ini masih menjalin usaha bersama dengan pengusaha tekstil Indonesia dari Bandung (Trisula). Importir tersebut bermaksud mencari mitra usaha dari luar Bandung yang biaya produksinya lebih rendah sehingga harga produknya dapat bersaing di Afrika Selatan. Wilayah pemasaran mereka meliputi propinsi Western Cape, propinsi Eastern Cape dan propinsi Gauteng serta juga dire-ekspor ke Namibia.

Volume impor produk kerajinan untuk wilayah Cape Town rata-rata mencapai 4 kontainer ukuran 40 ft dengan nilai total impor rata-rata mencapai Rand 4,7 juta atau US$ 672 .000 per tahun. Salah satu hambatan dalam pembelian barang-barang kerajinan dari Indonesia yaitu pengusaha kerajinan di Indonesia belum banyak yang bersedia menerima pembayaran dengan menggunakan sistem Letter of Credit (LC), sebagian dari eksportir produk kerajinan di Indonesia masih memilih pembayaran tunai. Sedangkan perusahaan Indofurn (importir furnitur) nilai impornya mencapai Rand 350 juta per tahun dan akan membuka tokonya yang baru seluas 2000 m2.

Jenis barang yang diimpor dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu yang bersifat produk massal dan yang bersifat produk selektif sesuai pesanan pasar. Para pengusaha dalam mengimpor produk-produk dari Indonesia yang sesuai dengan permintaan pasar dan memenuhi standar kualitas menggunakan beberapa cara. Pertama, bekerjasama dengan dengan pengusaha di Bali, Yogyakarta, Jakarta dan Bandung. Kedua, mengangkat satu atau dua orang yang dipercaya sebagai pekerja mereka di Indonesia dengan tugas melakukan kontrol terhadap pembuatan pesanan barang-barang yang akan diimpor. Ketiga, membeli langsung dari pasar. Pada umumnya, para pengusaha/importir yang awalnya sebagai turis di Indonesia, telah melakukan kegiatan bisnis dengan Indonesia antara 4 – 10 tahun.

Dalam pengamatan kami, disamping furnitur, barang-barang kerajinan Indonesia mampu bersaing, baik dari aspek harga maupun kualitas dengan barang-barang kerajinan dari Cina, India dan Thailand. Kami mendorong para pengusaha untuk mendiversifikasi impor produk-produk dari daerah-daerah lain di Indonesia.

Konjen RI juga telah melakukan pertemuan dan pembicaraan dengan pimpinan lembaga-lembaga kebudayaan, pendidikan dan perkumpulan olah raga di wilayah kerja KJRI Cape Town, terdapat peluang bagi peningkatan kerjasama:

  1. KJRI telah memberikan tanggapan positif terhadap keinginan pimpinan IZIKO Muzeum untuk menjalin kerjasama dengan museum-museum di Indonesia. IZIKO Muzeum merupakan salah satu museum Afrika Selatan yang banyak memiliki koleksi sejarah perbudakan di Afrika Selatan yang di dalamnya terdapat nama-nama serta cerita tentang orang-orang Indonesia. Dalam hubungan ini, Pemerintah Propinsi Sulawesi Selatan telah menyampaikan tanggapan positif terhadap keinginan kerjasama tersebut. Kjri juga menyarankan kepada IZIKO Muzeum agar mempertimbangkan kerjasama dengan Museum Asia Afrika di Bandung. Jika kerjasama antar museum ini terwujud, tidak saja akan merefleksikan peningkatan kerjasama bilateral Indonesia-Afrika Selatan melainkan juga merefleksikan aspek kerjasama antar regional Asia dan Afrika.
  2. Dalam pertemuan dengan pimpinan Institute Peace University of South Africa (IPSA), antara lain telah dibicarakan gagasan IPSA untuk menyelenggarakan program heritage tour bagi para mahasiswanya untuk lebih mengenal Indonesia serta mendirikan Indonesian Heritage Centre di kampus IPSA, Cape Town. IPSA merupakan satu-satu universitas Islam di Afrika Selatan di Cape Town yang sebagian besar mahasiswanya adalah masyarakat Cape Malay.
  3. Dalam bidang Pariwisata, KJRI  bersama-sama dengan Cape Town Routes Unlimited (Badan Pariwisata Propinsi Western Cape) telah membahas tindak lanjut Memorandum Kesepahaman dengan Badan Pariwisata Sulawesi Selatan yang ditandatangani pada tahun 2005. Badan Pariwisata Western Cape mengharapkan agar dapat diwujudkan kerjasama berupa paket wisata Cape Town-Makassar-Bali.
  4. Di bidang Pendidikan, KJRI sedang menggarap beberapa rencana kerjasama:
    • Bersama-sama dengan pimpinan Institute Peace University of South Africa (IPSA) sedang membahas tindaklanjut Persetujuan Pertukaran Akademik dan Kerjasama yang ditandatangani pada tahun 2005 antara IPSA dan Universty of Western Cape di satu pihak dengan beberapa Perguruan Tinggi di Makassar, Sulawesi Selatan dan Jakarta.
    • Bersama-sama dengan President the South African Melayu Society, sedang menggarap program pertukaran pelajar setingkat Sekolah Menengah Atas antara Rylands High School Cape Town, yang sebagian besar muridnya adalah anak-anak keturunan melayu (Cape Malay) dengan salah satu sekolah yang setara di Indonesia.
    • Memfasilitasi keinginan dari Institute for Hospitality Training (IHT) Cape Town untuk bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung. Pimpinan IHT merencanakan akan berkunjung ke Bandung dalam bulan Desember 2007.
  5. Di bidang olahraga, pimpinan perkumpulan bulutangkis propinsi Western Cape telah menghubungi KJRI menyampaikan gagasan mengenai dijalinnya suatu hubungan antar perkumpulan bulutangkis di propinsi Western Cape dengan perkumpulan bulutangkis di Indonesia.

Dalam pendekatan kepada Masyarakat Cape Malay, KJRI  selalu sampaikan pandangan bahwa disamping tetap memelihara nilai-nilai historis dan budaya yang telah terjalin sebagai landasan hubungan, juga sudah saatnya untuk membangun hubungan bisnis antara warga Cape Malay yang berprofesi sebagai pengusaha dengan kelompok pengusaha di Indonesia. Masyarakat Cape Malay yang memahami peluang pasar di Afrika Selatan dapat memainkan peranan penting dalam meningkatkan hubungan perdagangan antara Afrika Selatan dan Indonesia. Terjalinnya hubungan bisnis dimaksud diharapkan akan memberikan manfaat ekonomi bagi kedua belah pihak dan pada akhirnya akan membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat di Indonesia dan warga Masyarakat Cape Malay di Afrika Selatan. Hubungan baik yang telah terjalin selama ini merupakan modal dan landasan yang kokoh serta peluang untuk dimanfaatkan guna lebih meningkatkan lagi hubungan serta kerjasama antara Indonesia dengan dengan empat propinsi wilayah kerja KJRI Cape Town.